Urgensi pendidikan anak didalam islam dan bahaya dari menyia-nyiakan pendidikan mereka

الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه مباركا عليه كما يحب ربنا ويرضى, وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له, له الحمد في الدنيا والآخرة، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المصطفى والنبيه المجتبى صلى الله عليه وعلى آله وصحبه أئمة الهدى ومصابح الدجى، وسلم تسليما كثيرا.
Sesungguhnya diantara nikmat yang telah Allah Ta’ala curahkan kepada hamba-Nya adalah dengan menitipkan kepada hamba tersebut keturunan, menghadiahkan kepada hamba tersebut seorang buah hati. Yang demikian itu dikarenakan jiwa seorang hamba pada tabiatnya diciptakan oleh Allah Ta’ala akan merasa senang dan
bahagia tatkala dianugerahkan seorang anak dan keturunan. Sebagaimana anak itu sendiri merupakan salah satu perhiasan dari perhiasan-perhiasan dunia.
Allah Ta’ala berfirman;
ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (Al-kahfi 18:46)
Dan Allah Ta’ala juga telah menganugerahkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya istri dan keturunan, sebagaimana firman-Nya.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَٰجًا وَذُرِّيَّةً ۚ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَن يَأْتِىَ بِـَٔايَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ لِكُلِّ أَجَلٍ
كِتَابٌ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu)” (Ar-Ra’d 13:38).
Maka dianugerahkannya anak dan keturunan merupakan nikmat yang sangat luar biasa besar, dimana tidak akan mengetahui kadar dari nikmat tersebut kecuali seseorang yang telah ratusan kali atau bahkan ribuan kali mendambakannya.
Kita dapati banyak diantara manusia yang belum dianugerahi nikmat yang luar biasa ini, mereka mendambakan keturunan akan tetapi Allah Ta’ala belum mentakdirkan yang demikian.
Sungguh Allah Ta’ala memiliki hikmah mendalam didalam setiap perbuatan, pemberian, dan pembagian-Nya atas setiap hamba.
لِّلَّهِ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ ۚ يَهَبُ لِمَن يَشَآءُ إِنَٰثًا وَيَهَبُ لِمَن يَشَآءُ ٱلذُّكُورَ
أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَٰثًا ۖ وَيَجْعَلُ مَن يَشَآءُ عَقِيمًا ۚ إِنَّهُۥ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa” (Asy Syuura 42:49-50).
Setelah kita menyadari tentang besarnya nikmat memiliki keturunan, maka yang harus kita ketahui juga bahwa setiap nikmat wajib untuk disyukuri, sehingga nikmat tersebut bertambah.
Dan diantara bentuk bersyukur terhadap nikmat memiliki keturunan adalah dengan memberikan pendidikan agama yang berkualitas kepada anak tersebut.
Dikarenakan pendidikan anak didalam islam memiliki urgensi yang sangat besar, berikut merupakan diantara urgensi pendidikan anak didalam islam.
1. Anak sholeh merupakan sebaik-baik warisan dan peninggalan setelah orang tua meninggal.
Seorang anak yang sholeh akan senantiasa mentransferkan pahala kepada orang tuanya. Walaupun hingga orang tuanya wafat, kebaikan itu senantiasa akan mengalir deras sampai kekuburan kedua orang tuanya.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu Rasulullah sallahualaihissalam bersabda;
إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة ٍ جارية، أو علمٍ ينتفع به، أو ولد ٍصالحٍ يدعو له
“Apabila seseorang meninggal maka akan terputus amalnya kecuali 3 amalan, shodaqoh jariah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendoakannya” (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah radhiallahu juga bahwa rasulullah sallahualaihissalam bersabda;
إن الرجل لترفع درجته في الجنة، فيقول أنى لي هذا؟ فيقال باستغفار ولدك
“Sesungguhnya seseorang benar-benar akan diangkat derajatnya di dalam surga. kemudian seseorang tersebut bertanya, kenapa aku mendapatkan ini?, maka dikatakan, ini disebabkan anakmu memohonkan ampunan untukmu” (HR. Ahmad).
Maka perhatikanlah, bagaimana seorang anak yang sholeh bisa menjadi sumber kebaikan yang luar biasa untuk orang tuanya, bahkan setelah orang tua tersebut berpisah dengan kehidupan. Lalu pertanyaannya apakah mungkin seorang anak bisa sekonyong-konyong menjadi sholeh??.
Tentu sangat tidak mungkin, seorang anak hanya akan menjadi sholeh apabila anak tersebut dipoles dengan pendidikan agama yang berkualitas.
2. Ketika pendidikan anak tidak berkualitas akan menjadi sumber keburukan bagi orang tua
Sebagaimana anak sholeh hasil dari pendidikan agama berkualitas akan menjadi sumber kebaikan untuk orang tua, begitu juga anak tholeh (tidak sholeh) bisa menjadi sumber kejelekan untuk orang tua.
Allah Ta’ala berfirman menjelaskan tentang hikmah Nabi Khidir alaihissalam yang membunuh seorang anak;
وَأَمَّا ٱلْغُلَٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَآ أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَٰنًا وَكُفْرًا
“Dan adapun anak muda itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran” (Al-Kahfi 18:80).
Qotadah rahimahullahu berkata;
قد فرح به أبواه حين ولد، وحزنا عليه حينا قتل، ولو بقي كان فيه هلتكهما
“Sungguh kedua orangtuanya bahagia ketika kelahiran anak tersebut, dan kedua orang tuanya pun sedih ketika anak itu dibunuh oleh khidir, akan tetapi kalaulah seandainya anak itu masih hidup maka anak tersebut akan menjadi sebab kebinasaan untuk kedua orang tuanya” (Tafsir Ibnu Katsir : 5/185).
3. Pendidikan anak merupakan amanah dan kewajiban disetiap pundak orang tua yang kelak akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Ta’ala
Allah Ta’ala berfirman;
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu agar menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya” (An Nisa 4:58) .
Allah Ta’ala juga berfirman;
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (At Tahrim 66:6) .
Berkata ‘Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu mengomentari ayat diatas;
(قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا) أي علموهم وأدبوهم
“Makna firman Allah Ta’ala (jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka) adalah, ajarkan keluargamu ilmu agama dan ajarkan mereka adab” (Mausu’ah Ibni Abi Ad-Dunya : 8/77).
Dari keterangan sahabat yang mulia Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu diatas, jelaslah bahwa dengan memberikan pendidikan agama kepada si buah hati, maka secara otomatis orang tua sudah membuat penghalang antara buah hati kesayangannya dengan jilatan api neraka.
Dan sebaliknya ketika orang tua tidak memberikan pendidikan agama kepada si buah hati, maka secara sadar dan sengaja orang tua telah mendekatkan buah hati kesayangannya kedalam kobaran api neraka. l’iyaazan billah.
Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhu Rasulullah sallahualaihissalam bersabda;
كلكم راع ومسؤول عن رعيته، فاإلمام راعٍ ومسؤول عن رعيته، والرجل راع في أهل بيته ومسؤول عن رعيته
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang kalian pimpin. Maka pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan terhadap rakyatnya, dan seorang pria adalah pemimpin atas keluarganya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan terhadap keluarganya” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).
Dari Ma’qil bin yasaar radhiallahu ‘anhu Rasulullah sallahualaihissalam juga bersabda;
ما من عبد يسرتعيه الله رعية يموت يوم يموت وهو
غاشٌّ لرعيته إلا حرم الله عليه الجنة
“Tidaklah salah seorang hamba yang Allah titipkan padanya satu amanah tanggung jawab, kemudian hamba tersebut meninggal dalam keadaan dia melalaikan tanggung jawabnya kecuali hamba tersebut Allah haramkan dari surga” (HR. Al-Bukhori dan Muslim.
Maka berhati-hatilah orang tua yang melalaikan tanggung jawabnya untuk memberikan pendidikan agama yang berkualitas bagi buah hatinya. Ancamannya tidaklah sepele, melainkan Allah Ta’ala akan haramkan orang tua tersebut dari surga-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keadaan yang demikian.
4. Kesungguh-sungguhan para Nabi dan Rasul Alaihim wa ala nabiyyina afdholus sholatu wassalam dalam mendidik dan memberikan pendidikan kepada buah hati dan keturunan mereka
1). Nabi Nuh alaihissalam.
وَنَادَىٰ نُوحٌ ٱبْنَهُۥ وَكَانَ فِى مَعْزِلٍ يَٰبُنَىَّ ٱرْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ ٱلْكَٰفِرِينَ
“Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir” (Huud 11:42).
2). Nabi Ibrahim alaihissalam.
وَوَصَّىٰ بِهَآ إِبْرَٰهِۦمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَٰبَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Dan nabi Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (Al Baqarah 2:132).
وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا ٱلْبَلَدَ ءَامِنًا وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala” (Ibrahim 14:35).
3). Nabi Ismail alaihissalam.
وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَٰبِ إِسْمَٰعِيلَ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ صَادِقَ ٱلْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَّبِيًّا
وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُۥ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِۦ مَرْضِيًّا
“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.
Dan ia menyuruh anggota keluarganya untuk sholat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya” (Maryam 19:54-55).
4). Nabi Ya’kub alaihissalam.
أَمْ كُنتُمْ شُهَدَآءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ ٱلْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنۢ بَعْدِى قَالُوا۟ نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ
“Apakah kamu menyaksikan ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan
Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (Al Baqarah 2:133).
5). Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wassalam.
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu wahai Muhammad untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (Thaahaa 20:132).
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah sallahualaihissalam memerintahkan manusia lewat sabdanya;
مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين واضربوهم
عليها وهم أبناء عشر سنين وفرقوا بينهم في المضاجع
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk sholat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukulah apabila mereka enggan ketika mereka berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur diantara mereka” (HR. Ahmad).
Lihatlah bagaimana Kesungguh-sungguhan para Nabi dan Rasul alaihimussalam merealisasikan perintah Allah Ta’ala untuk memberikan pendidikan kepada buah hati mereka. Jika mereka alaihimussalam yang terjaga dari dosa dan kesalahan, mereka adalah sebaik-baik manusia yang berjalan diatas permukaan bumi saja begitu luar biasa perhatiannya didalam memberikan pendidikan kepada buah hati mereka, lalu bagaimana mungkin kita yang bermandikan dosa dan kesalahan begitu berani untuk meninggalkan perintah dan amanah ini. Allahul musta’an.
4. Kesungguh-sungguhan para Sahabat radhiallahu anhum ajmain dalam memberikan pendidikan kepada buah hati dan keturunan mereka
Sahabat Nabi radhiallahu anhum ajmain adalah para manusia terbaik setelah Nabi dan Rasul.
Allah Ta’ala berfirman;
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (Ali Imran 3:110).
Dari Abdullah bin Mas’ud Rasulullah sallahualaihissalam bersabda;
خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
“Sebaik-baik manusia adalah yang ada pada zaman ku (sahabat), kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya” (HR. Al-Bukhri dan Muslim).
Bersamaan dengan status mereka sebagai manusia terbaik setelah Nabi dan Rasul, mereka juga luar biasa perhatian didalam memberikan pendidikan kepada buah hati mereka.
Berkata Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma;
كان يعلم الصبي الصلاة إذا عرف يمينه من شماله
“Dahulu para sahabat nabi mereka
mengajarkan anak mereka sholat ketika anak mereka telah mampu membedakan antara kanan dan kiri” (Mausu’ah Ibni Abi Ad-Dunya : 8/78).
Beliau radhiallahu ‘anhuma juga berkata;
يا هذا أحسن أدب ابنك، فإنك مسؤول عنه وهو مسؤول عن برك
“Wahai fulan perbaikilah adab anakmu, sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggung jawaban atas anakmu dan dia juga akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatan baikmu” (Mausu’ah Ibni Abi Ad-Dunya : 8/78).
Berkata Ar-Rabi’ bintu Muadz radhiallahu ‘anha;
فكان نصوم صبياننا ونجعل لهم اللعبة من العهن، فإذا بكى أحدهم على الطعام أعطيناه ذاك حتى يكون عند
الإفطار
“Dahulu kami mengajarkan anak-anak kami
untuk berpuasa dan kami membuatkan untuk mereka semacam mainan yang terbuat dari bulu, ketika salah satu diantara mereka menangis karena rasa lapar kami berikan kepada mereka mainan tersebut sampai tiba waktunya berbuka” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).
5. Ilmu dan pendidikan merupakan asas keselamatan sedangkan kebodohan adalah asas kebinasaan
Di dalam islam ilmu agama dan pendidikan merupakan asas dan pondasi yang sangat penting, bahkan menuntut ilmu agama sendiri hukumnya adalah wajib atas setiap muslim. Dan setiap muslim harus berilmu sebelum berucap dan beramal.
Dari Abu Said Al-Khudri Rasulullah sallahualaihissalam juga bersabda;
طلب العلم فريضة على كل مسلم
“Menuntut ilmu agama adalah wajib atas seluruh muslim” (HR. At-Thabrani)
Al-Imam Al-Bukhori membuat satu bab didalam Shahihnya;
باب العلم قبل القول والعمل ودليله قول تعال
(فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ) فبدء بالعلم قبل القول والعمل
“Bab berilmu sebelum berucap dan beramal dalilnya adalah firman Allah Ta’ala;
(Maka berilmulah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan) (Muhammad 47:19)
maka dimulai dengan ilmu sebelum berucap dan beramal”.
(Shahih Al-Bukhori : Bab Al-ilmi qoblal qouli wal amal).
Ilmu dan pendidikan agama layaknya cahaya didalam mengarungi kehidupan nyata ini. Sehingga tanpa cahaya tersebut, seseorang tak lebih dari sekedar orang buta yang berjalan diatas permukaan bumi.
Allah Ta’ala berfirman;
أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ٱلْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰٓ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
“Maka apakah orang yang berilmu yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal yang dapat mengambil pelajaran,”
(Ar-Ra’d 13:19)
Berkata juga Abdullah Bin ‘Isa rahimahullahu;
لا تزال هذه الأمة بخير ما تعلم ولدها القرآن
“Senantiasa umat ini didalam kebaikan selama anak-anaknya diajarkan Al-Quran” (Mausu’ah Ibni Abi Ad-Dunya : 8/75).
Bahkan dampak paling berbahaya dari melupakan ilmu dan pendidikan adalah seseorang bisa terjatuh dalam perbuatan menyekutukan Allah Ta’ala wal’iyazubillah.
Allah Ta’ala berfirman;
وَقَالُوا۟ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) kepada wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”.
(Nuh 71:23)
Berkata Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dalam menafsirkan ayat diatas;
هذه أسماء رجال صالحين من قوم نوح فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن أنصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون فيها أنصاباً وسموها بأسمائهم ففعلوا ولم تعبد حتى إذا هلك أولئك ونسي العلم عبدت
(Wadd, suwwa’, yaghuts, ya’uq, nasr) itu adalah nama-nama orang sholeh dari kaum nabi Nuh, kemudian ketika mereka telah meninggal syaithon membisikkan kepada kaum mereka agar dibangun ditempat yang biasa mereka berkumpul dan duduk-duduk diatasnya sebuah monumen, lalu menamai monumen tersebut dengan nama-nama orang sholeh tersebut, kaum orang-orang sholeh itupun melakukan yang demikian, dan di permulaannya monumen tersebut tidak disembah, sampai akhirnya kaum ini juga meninggal dan ilmu serta pendidikan agama dilupakan maka monumen itupun akhirnya disembah dan menjadi berhala.
(Shahih Bukhori : 4920)
Ketika kita menyadari realita bahwa ilmu dan pendidikan agama merupakan cahaya dan sumber kebaikan kehidupan ini, maka orang yang berakal tidak akan lagi menunda apalagi sampai meninggalkan pendidikan agama untuk buah hatinya, sehingga buah hatinya menjadi buta dan tersesat.
Pendidikan anak dan ilmu agama didalam islam, memiliki peranan yang sangat vital.
Hari ini mereka memang anak-anak, akan tetapi di masa mendatang merekalah tokoh-tokoh penting dari sebuah generasi islam.
‘Urwah din Zubair rahimahullahu berpesan kepada buah hatinya;
أي بني هلموا فتعلموا فإنكم توشكوا أن تكون كبار قوم، وإني كنت صغيرا لا ينظر إلي، فلما أدركت من الناس ما أدركت جعل الناس يسأوني، وما أشد على امرئ أن يسأل عن شيء من أمر دينه فيجهله
“Wahai kalian buah hatiku, kemarilah kalian belajarlah tentang agama ini, sesungguhnya kalian kelak akan menjadi pembesar kaum ini, dahulu ketika aku masih kecil tidak ada seorang pun yang menoleh kearahku, kemudian ketika aku telah menguasai apa yang manusia tidak kuasai (ilmu agama) barulah manusia itu bertanya kepadaku (tentang agama), dan tidak ada kesedihan yang mendalam yang menimpa seseorang melainkan ketika dia ditanya tentang agamanya lalu dia tidak mengetahuinya” (Mausu’ah Ibni Abi Ad-Dunya : 8/133).
Pendidikan anak memang berat dan penuh tantangan, akan tetapi hasil dari pendidikan di masa anak-anak itulah yang akan menjadi akar dan pondasi kokoh dikehidupan nyata seorang manusia.
Berkata Yazid bin Ma’mar rahimahullahu;
العلم في الصغر كالنقش على الحجر
“Ilmu dan pendidikan diwaktu kecil layaknya mengukir diatas batu” (Mausu’ah Ibni Abi Ad-Dunya : 8/133).
Memang berat dan sukar mengukir diatas batu, akan tetapi tatkala batu itu sudah terukir walaupun tidak terlalu dalam, maka ukiran tersebut pasti akan terbentuk dan membekas selamanya.
Ketika kita mendambakan masa depan manusia yang berkualitas dan cemerlang, maka itu semua harus berangkat dari pendidikan agama anak di usia dini yang juga berkualitas.
Berkata As-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullahu;
قال مالك بن أنس أحد العلماء المشهورين وقال غيره من أهل العلم
“لن يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلها أولها”
“Telah berkata Malik bin Anas, salah seorang ulama yang tersohor, dan telah berkata juga ulama selain beliau;
“Tidak akan bisa memperbaiki umat ini kecuali dengan apa yang yang telah memperbaiki generasi pertama umat ini (sahabat)” (binbaz.org.sa)
Lihatlah bagaimana para Nabi dan Rasul
alaihimussalam , juga para Sahabat radhiallahu ‘anhum ajmain, mereka semua mengambil bagian pada bab ini dengan sangat banyak, sungguh-sungguh, dan tentu berkualitas. oleh sebab itu menjadilah mereka sebagai penguasa di dunia, Allah Ta’ala angkat derajat mereka dihadapan musuh-musuh islam, hampir satu dunia seluruhnya berada dibawah kekuasaan islam pada masa itu.
Berbeda kasusnya dengan keadaan kaum muslimin sekarang, mereka banyak secara jumlah tapi minim secara kualitas. Sehingga umat muslim saat ini tidak lagi berwibawa di hadapan musuh-musuhnya. Justru umat muslim saat ini berbondong-bondong meninggalkan agama mereka sendiri.
Realita memilukan, kebanyakan orang tua saat ini lebih antusias ketika anak-anak
mereka jago sains, jago matematika, jago bahasa inggris. Semua diusahakan oleh orang tua agar anaknya bisa melek pada ilmu-ilmu dunia tersebut.
Sementara itu disisi lain kebanyakan orang tua malah merasa biasa saja dan tidak bersalah, ketika buah hatinya tidak mengerti cara sholat yang benar atau tidak sholat sama sekali, ketika buah hatinya tidak mengerti cara berwudhu dengan benar, atau bahkan ketika buah hatinya tidak mampu untuk membaca Al-Quran walaupun sedikit. l’iyaazan billah.
Semoga Allah Ta’ala menjaga dan menjauhkan kita serta keluarga kita, dari ironi yang demikian dan juga dari berpaling terhadap ilmu agama-Nya.
Demikian pembahasan ini semoga bermanfaat.
Allahu Ta’ala A’la wa A’lam.
______________
Penulis : Umar Abu Abdillah
