Tauhid, Esensi dari Penciptaan Jin dan Manusia


بسم الله الرحمن الرحيم
Tauhid, Esensi dari Penciptaan Jin dan Manusia
(Bagian satu)

الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه مباركا عليه كما يحب ربنا ويرضى, وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له, له الحمد في الدنيا والآخرة، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المصطفى والنبيه المجتبى صلى الله عليه وعلى آله وصحبه أئمة الهدى ومصابح الدجى، وسلم تسليما كثيرا.

Pembahasan tentang tauhid merupakan pembahasan yang belakangan sangat akrab di telinga kaum muslimin. Betapa banyak karangan-karangan, betapa banyak kajian-kajian, seminar-seminar, atau bahkan dauroh-dauroh, yang ditulis dan diselenggarakan secara khusus untuk mengupas lebih mendalam tentang kandungan tauhid. Hal ini tentu tidak mengherankan karena tauhid pada asalnya merupakan esensi dasar dari penciptaan jin dan manusia.

Hal ini dibuktikan dengan;

  • Bahwa perkara pertama yang wajib untuk diilmui oleh setiap manusia adalah tentang mentauhidkan Allah Jalla wa ‘ala.
    Yang dengan sebab tauhid ini jugalah Allah Jalla wa ‘Ala mengutus para Nabi dan rasul alaihimussalam, dengan sebab tauhid ini jugalah Allah Jalla wa ‘Ala menurunkan kitab-kitab-Nya, dan dengan sebab tauhid ini jugalah Allah Jalla wa ‘Ala menciptakan seluruh jin dan manusia.
    Allah Ta’ala berfirman;

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mentauhidkan-Ku”. (Adz Dzaariyaat 51:56).

Berkata ‘Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhuma menjelaskan makna ayat diatas;

لِيَعْبُدُوْنِ أَيْ لِيُوَحِّدُوْنِ

“(Makna ayat) لِيَعْبُدُوْنِ pada ayat diatas adalah; agar kalian mentauhidkan-Ku”.
(Syarah kitabit tauhid).

Maka tauhid secara mutlak adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung ketika disandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain didalam islam. Oleh sebab itu kebaikan dari seluruh kebaikan hanya akan mungkin terjadi dengan merealisasikan tauhid. Dan kejelekan dari seluruh kejelekan hanya akan mungkin terjadi ketika menentang tauhid. Siapa saja yang sejenak mencoba mau untuk memperhatikan keadaan alam semesta ini, pasti dia akan mendapatkan fakta bahwa seluruh kebaikan tersebut disebabkan oleh tauhid, disebabkan oleh peribadatan yang murni hanya kepada Allah Jalla wa ‘Ala, dan disebabkan oleh bentuk ketaatan mutlak kepada Rasulullah sallahu alaihi wassalam. Dan sebaliknya seluruh fitnah, seluruh kemalangan, seluruh paceklik, seluruh kekalahan atas musuh-musuh islam, dan selain daripada itu dari kejelekan-kejelekan, sebabnya adalah konsekuensi dari peribadatan kepada selain Allah Jalla wa ‘Ala, dan juga menyelisihi petunjuk Rasulullah sallahu alaihi wassalam.

Sehingga siapa saja yang memperhatikan perkara ini dengan sebenar-benar dan sejujur-jujurnya perhatian, maka dia akan mendapati fakta bahwa yang demikian itu benar-benar terjadi dan tampak nyata di alam ini, baik secara umum ataupun khusus.
(Majmu’ul Fatawa : 25/15).

  • Tauhid juga merupakan inti dakwah para nabi dan rasul alaihimussalam.
    Allah Ta’ala berfirman;

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (An Nahl 16:36).

  • Ketika tauhid seseorang rusak maka pada akhirnya akan berimplikasi pada rusaknya seluruh amal ibadahnya.
    Allah Ta’ala berfirman;

وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu wahai Muhammad dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah seluruh amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (Az Zumar 39:65).

  • Semua surat didalam Al-Quran berisi tentang makna tauhid, berkata Ibnul Qoyyim rahimahullahu;

فَالقُرْآنُ كُلُّهُ فِيْ التًّوْحِيْدِ، وَحُقُوْقَهُ وَجَزَائُهُ، وَفِيْ شَأْنِيْ الشِرْكِ وَأَهْلِهِ وَجَزَائِهِمْ
“Maka Al-Quran seluruhnya adalah berisi tentang tauhid, yaitu hak-hak tauhid, balasan untuk orang yang bertauhid, dan juga berisi tentang perihal kesyirikan, para pelakunya kesyirikan, dan balasan bagi pelaku kesyirikan”.
(Madarijus Saalikin : 3/468-469).

Semua ini akhirnya mengantarkan kita pada satu konsepsi bahwa tauhid merupakan perkara yang paling asasi dan mendasar didalam islam.

Selanjutnya didalam upaya menjelaskan tauhid ini, diantara manusia ada yang membahasnya hanya berdasarkan akal logikanya semata. Sebagian lagi mencoba membahasnya dengan pendekatan disiplin-disiplin ilmu yang bertentangan dengan islam. Lalu sebagian lagi mereka mencoba membahas tauhid hanya dengan menukilkan pendangan-pandangan personal dari tokoh atau cendikiawan tertentu.
Yang menjadi musibah adalah upaya-upaya tersebut pada akhirnya tidaklah menjelaskan tauhid sedikitpun, akan tetapi sebaliknya justru akan mengkaburkan, atau bahkan menghilangkan makna tauhid itu sendiri.
Padahal ketika kita berhasil sedikit saja memahami konsep dasar dari tauhid, yaitu bahwa tauhid ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan Rabb yang maha kuasa, Allah Jalla wa ‘Ala. Sehingga itu akan mengantarkan kita pada konsekuensi bahwa yang paling mengerti tentang tauhid ini adalah Allah Jalla wa ‘Ala itu

sendiri dan juga para Rasul-Nya alaihimussalam. Karena tidak ada yang lebih mengetahui Allah Jalla wa ‘Ala selain diri-Nya sendiri dan juga Rasul-Nya alaihimussalam.
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman;

قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
(Al Baqarah 2:30).

Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman;

قُلْ ءَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ ٱللَّهُ ۗ
“Katakanlah wahai Muhammad: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah yang lebih mengetahui?!!”
(Al Baqarah 2:140).

Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman;
فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ

تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Kemudian jika kamu berlainan
pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.
(An Nisa 4:59).

Daro Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu Rasulullah sallahu alaihi wassalam bersabda;

تَرَكْتُ فِيْكُمْ عَلَى شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّ بَعْدَهُمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِيْ
“Aku telah tinggalkan kalian diatas dua perkara, yang apabila kalian berpegang teguh dengan kedua perkara tersebut maka kalian tidak akan tersesat setelahnya, dua perkara tersebut adalah AL-Quran dan Sunnah-ku.”

(HR. Al-Hakim).

Dari Abdullah bin Mas’ud Rasulullah sallahualaihissalam bersabda;

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah yang ada pada zaman ku (Sahabat), kemudian generasi setelahnya (Tabi’in, kemudian generasi setelahnya (Atba’ At-Tabi’in).”
(HR. Al-Bukhri dan Muslim).

Oleh sebab itu maka penjelasan tauhid yang paling sempurna adalah apa yang telah Allah Jalla wa ‘Ala jelaskan di Al-Quran, dan apa yang telah Rasulullah sallahu alaihi wassalam jelaskan di As-Sunnah, dengan metode pemahaman para sahabat nabi ridwanallahu ajmain.

1. Pengertian Tauhid secara bahasa
Kata tauhid (تَوْحِيْدٌ) merupakan bentuk

dasar dari kata (وَحَّدَ) (يُوَحِّدُ) yang maknanya adalah menjadikan satu.
Makna satu disini artinya adalah sesuatu yang bersifat sendiri dan tunggal.
Karena huruf waw (و), lalu huruf ha’ (ح), dan huruf dal (د) pada asal kata tauhid (وَحَّدَ), selalu berputar pada makna menunggalkan sesuatu dalam dzatnya, sifatnya, dan perbuatannya.
(Al-Qomus Al-Muhith : 1/342).

2. Pemahaman Tauhid secara istilah syar’i disisi Ahlus Sunnah
Maknanya adalah;
إِفْرَادُ اللهِ تَعَالَى بِرُبُوْبِيَّتِهِ وَأُلُوْهِيَّتِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ
Mengesakan Allah Ta’ala pada
Rububiyyah-Nya (penciptaan, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta) dan Uluhiyyah-Nya (ibadah) serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
(Taisir Azizil Hamid hal 32-33).

Adapun Al-Imam Muhammad bin Abdil

Wahhab rahimahullahu memberikan definisi tauhid adalah ;
إِفْرَادُ اللهِ بِالعِبَادَةِ
“Mengesakan Allah Ta’ala didalam ibadah”
(Ad-Duror At-Tsaniah 1/126).

Pada definisi ini Al-Imam Muhammad bin Abdil Wahhab hanya mencukupkan dengan penyebutan tauhid Uluhiyyah dan ibadah (Mengesakan Allah Ta’ala didalam ibadah), yang demikian itu dikarenakan tauhid ibadah dan Uluhiyyah mencakup didalamnya makna tauhid Rububiyyah (Mengesakan Allah Ta’ala dalam hal penciptaan, pemberi rezeki, dan pengatur alam). Karena siapa saja yang mengibadahi Allah Ta’ala semata (tauhid Uluhiyyah), maka sudah pasti dia akan meyakini bahwa hanya Allah lah satu-satunya sang pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta (tauhid Rububiyyah).

Dan juga dikarenakan tauhid ibadah dan Uluhiyyah memberikan konsekuensi untuk mentauhidkan Allah Ta’ala dalam hal Asma’ dan Sifat-Nya (tauhid nama dan sifat-sifat Allah). Karena siapa saja yang beribadah hanya kepada Allah semata (tauhid Uluhiyyah) maka hal itu berkonsekwensi bahwa dia harus meyakini Rabb yang ia sembah itu memiliki sifat-sifat yang mulia dan nama-nama yang sempurna.
(Dirosat fii ‘Ilmil Aqidah : 1/98).

3. Pemahaman Tauhid disisi kelompok-kelompok menyimpang

a. Tauhid disisi ilmu filsafat, seperti Ibnu Sina, dan Aristoteles
Hanya menetapkan adanya wujud Allah tanpa adanya sifat dan hakikat. Bahkan Allah menurut mereka hanyalah memiliki

wujud tanpa adanya sedikitpun dari sifat-sifat khusus, seperti maha mengetahui, maha melihat, maha mendengar, maha tinggi, maha hidup. Dan mereka menolak bahwa Allah Ta’ala berbicara, memiliki wajah, memiliki tangan, dan selain daripada itu dari sifat-sifat mulia Allah Ta’ala. Akhir dari pemahaman ini adalah menolak keberadaan Allah Ta’ala itu sendiri.
Maka Tauhid disisi pemahaman mereka adalah puncak tertinggi dari kekufuran dan penolakan Al-Quran.
(Madarijus Saalikin : 3/415)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengomentari definisi Tauhid yang disampaikan oleh Ibnu Siina;
وَمَقْصُوْدُ هَذِهِ العِبَرَاتِ أَنَّهُ لَيْسَ للهِ صِفَةٌ وَلَا لَهُ قُدْرَةٌ
Dan maksud dari definisi ini adalah bahwa sesungguhnya Allah tidak memiliki sifat dan juga Allah tidak memiliki kemampuan.

(Bayanu Talbisil Jahmiah : 1/465).

Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan.

b. Tauhid disisi Al-Ittihadiyyah
Bahwasanya antara Al-Kholiq (pencipta) dengan Al-Kholq (yang diciptakan) adalah sama. Lalu sesungguhnya Allah adalah satu-satunya wujud yang hakiki. Dan selain Allah dari kalangan makhluk tidak ada wujudnya secara terpisah, melainkan itu hanyalah bentuk penjelmaan dari wujud Allah itu sendiri.
(Madarijus Saalikin : 3/415).
Inti dari pemahaman Tauhid disisi mereka adalah bahwasanya Allah itu bergabung dengan mahluk-Nya. Konsekuensi dari pemahaman ini adalah Allah juga bisa bersatu dengan pendeta, Allah bisa bersatu dengan orang-orang kafir, bahkan Allah bisa bersatu dengan hewan.

Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan.

c. Tauhid disisi Al-Jahmiyyah
Mereka berlebihan dalam mengingkari tauhid yang Allah Ta’ala telah mengutus dengannya para Nabi dan Rasul, dan dengannya juga Allah Ta’ala telah menurunkan kitab-kitab-Nya. Oleh sebab itu mereka mengingkari sifat maha tinggi Allah diatas makhluk-makhluk secara Dzat-Nya, mereka mengingkari bahwasanya Allah beristiwa’ diatas Arsy-Nya, mereka mengingkari pendengaran, penglihatan, kekuatan, dan kehidupan untuk Allah, mereka mengingkari Allah berbicara, dan mereka mengingkari sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah yang mulia.
(Madarijus Saalikin : 3/416).

Hakikat dari pemahaman ini adalah, mereka menolak sifat-sifat mulia untuk Allah Ta’ala, sehingga akhirnya mereka mensifati Allah dengan sifat-sifat yang rendah dan tidak pantas untuk Allah Ta’ala. Seperti Allah tidak maha tinggi, Allah tidak memiliki pendengaran, penglihatan, dan Allah tidak maha hidup.
Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan.

d. Tauhid disisi Al-Qadariyyah
Mereka mengingkari takdir, mengingkari hakikat dari nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala, dan mengingkari sifat adil pada ketetapan dan takdir Allah, sehingga mereka berkata “kami adalah orang-orang yang adil dan orang-orang yang bertauhid”. (Ibid).

Mereka beranggapan bahwa manusia tidak terikat dengan ilmu Allah, bahkan sebagian mereka beranggapan bahwa Allah tidak mengetahui perbuatan hamba kecuali apa yang telah terjadi. (Padahal Allah maha mengetahui perbuatan seluruh hamba-hamba-Nya sebelum terjadinya perbuatan tersebut, dan bagaimana akan terjadinya perbuatan tersebut, bahkan Allah Ta’ala maha mengetahui bagaimana perbuatan tersebut apabila tidak terjadi).
Allah tidak menciptakan dan ikut campur pada perbuatan makhluk, makhluk itu sendiri yang menciptakan segala perbuatannya secara mutlak.
(Silsilah Liqo’ Babil Maftuh : 233)

Hakikat dari pemahaman mereka adalah bahwasanya mereka merasa lebih mampu daripada Allah Ta’ala, mereka merasa lebih berilmu atas perbuatan mereka sendiri daripada Allah Ta’ala, dan mereka merasa bahwa Allah tidak bisa ikut campur pada perbuatan-perbuatan mereka. Sedangkan Allah maha mampu dan maha mengetahui!!.
Maha suci Allah dari apa yang mereka katakan.

e. Tauhid disisi Al-Jabariyyah
Menurut mereka hanya Rabb yang bersendirian didalam penciptaan dan perbuatan, dan sesungguhnya seorang hamba secara hakikat bukanlah orang yang melakukan perbuatannya, seorang hamba bukanlah orang yang menjadi sebab adanya perbuatan-perbuatan mereka, dan seorang hamba tidak akan mampu untuk melakukan perbuatan-perbuatan mereka secara mandiri.
(Madarijus Saalikin : 3/417).

Artinya mereka meyakini bahwa segala bentuk perbuatan manusia itu murni dihasilkan dari kehendak Allah, dan manusia tidak ada kendali sedikitpun untuk melakukan perbuatan-perbuatan mereka sendiri. Ketika misalnya mereka melakukan perbuatan dosa itu bukan

karena kehendak mereka, melainkan itu adalah mutlak ketetapan dan kuasa yang telah Allah tetapkan atas mereka, dan mereka tidak ada kuasa untuk menolak ketetapan tersebut.
Maha suci Allah dari apa yang mereka katakan.

f. Tauhid disisi Syiah Rafidhah
Mengesakan kedua belas imam mereka dengan kedudukan imamah, dan barang siapa yang tidak beriman terhadap dua belas imam mereka maka seseorang tersebut telah melakukan perbuatan syirik besar.
(Dirosat fii ‘Ilmil Aqidah : 1/99).

Berkata salah satu ulama syiah rafidhah abul hasan al-‘amili;

إِنَّ الأَخْبَارَ مُتَضَافِرَةٌ فِيْ تَأُوِيْلِ الشِّرْكِ بِاللهِ وَالشِّرْكِ بِعِبَادَتِهِ بِالشِّرْكِ فِيْ الوِلَايَةِ وَالإِمَامَةِ أَيْ يُشْرِكُ مَعَ الإِمَامِ

مَنْ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ الإِمَامَةِ وَأَنْ يَتًّخِذَ مَعَ وِلَايَةِ آلِ مُحَمَّدٍ (أَيْ الأَئِمَّةُ اثْنَيْ عَشَرَ) وِلاَيَةَ غَيْرِهِمْ
Sesungguhnya berita-berita yang telah saling menguatkan pada makna syirik kepada Allah dan syirik didalam beribadah kepada-Nya itu semua bisa ditakwil (ditarik kesimpulan) kepada perbuatan syirik terhadap wilayah dan imamah. maksudnya adalah perbuatan syirik kepada imam dengan beribadah secara bersamaan kepada orang lain yang tidak memiliki kedudukan imamah, dan menjadikan secara bersamaan wilayah dua belas imam dengan wilayah selain mereka. (Maratul Anwar hal : 202).

Maka menurut pemahaman mereka orang yang tidak beriman dan mengakui keimaman dua belas imam mereka, orang tersebut telah kafir, keluar dari islam.
Maha suci Allah dari apa yang mereka perbuat.

4. Pembagian Tauhid disisi Ahlus Sunnah

a. Diantara ulama ada yang membagi tauhid menjadi dua jenis;
1. Tauhid ma’rifah (pengenalan) dan itsbat (penetapan).
2. Tauhid tholab (penuntutan) dan qosd (pemaksudan).
(Madarijus Saalikin : 3/317-318, syarah At-Thohawiyyah : 1/42-43).

b. Sebagian lagi membagi tauhid menjadi 3 bagian;
1. Tauhid Rububiyyah (Mengesakan Allah Ta’ala pada penciptaan, pemberi rezeki, dan pengaturan alam semesta)
2. Tauhid Uluhiyyah (Mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah)
3. Tauhid Asma’ was Shifat (Mengesakan Allah Ta’ala pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya) (Ibnu Battoh : Al-Ibanah Al-Qubro : 6/172).

Tidak ada pertentangan diantara dua pembagian tauhid tersebut.
Ketika tauhid dibagi menjadi dua bagian, ini ditinjau dari apa yang wajib untuk seorang hamba yakini. Artinya seorang hamba wajib atasnya mengenal Allah Ta’ala dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan menetapkan bahwa tidak ada sang pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta kecuali Allah Ta’ala. Dan seorang hamba juga wajib atasnya meyakini bahwa segala jenis ibadah hanya untuk Allah semata dan tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Ta’ala.

Dan ketika tauhid dibagi menjadi tiga bagian, ini ditinjau dari sisi makna yang terkandung dari tauhid itu sendiri.
Artinya didalam tauhid terdapat tiga makna yang saling terhubung, yaitu; perbuatan Allah (tauhid Rububiyyah), perbuatan makhluk (tauhid Uluhiyyah), dan nama serta sifat Allah Ta’ala (tauhid asma’ was shifat).
(Al-Masailul Aqidati Allati Hakaa fiiha Ibnu Taimiyah Al-Ijma’ hal : 88).

Berkata As-Syaikh Abdurrozzaq Al-‘Abbad hafidzohullah;
أَمَّا تَقْسِيْمُ التَّوْحِيْدِ إِلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ; تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ وَتَوْحِيْدُ الأُلُوْهِيَّةِ وَتَوْحِيْدُ الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ…. فَهَذِهِ عَقِيْدَةُ المُسْلِمِيْنَ قَاطِبَةٌ المُؤْمِنِيْنَ بِكِتَابِ اللهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ رَسُوْلِهِ صلى الله عليه وسلم
“Adapun pembagian Tauhid menjadi tiga bagian; tauhid Rububiyyah, tauhid Uluhiyyah, tauhid Asma’ was Shifat…
Maka pembagian ini adalah Aqidah dan keyakinan kaum muslimin yang seluruhnya orang-orang yang beriman terhadap Al-Quran dan Sunnah rasul-Nya sallahu alaihi wassalam “.
(Al-Qoulus Sadiid hal : 16).

5. Dalil dari macam-macam tauhid
Sesungguhnya siapa saja yang memperhatikan dan mentadabburi Al-Quran maka dia akan mendapati ayat-ayat yang memerintahkan untuk mengikhlaskan seluruh amalan hanya kepada Allah Ta’ala semata, maka ini adalah jenis tauhid Uluhiyyah.
Selanjutnya dia pasti akan mendapati juga ayat-ayat yang menunjukkan bahwasanya Allah, Dialah sang maha pencipta, Dialah sang pemberi rezeki, dan Dialah sang maha pengatur alam semesta, maka ini adalah jenis tauhid Uluhiyyah.Yang jenis tauhid Uluhiyyah ini diyakini juga oleh orang-orang musyrikin akan tetapi tidak membuat mereka masuk kedalam islam. Dan sebagaimana dia juga pasti akan mendapati ayat-ayat lain yang menjelaskan bahwa Allah Ta’ala memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia, tidak ada yang serupa dengan Allah sedikitpun dari kalangan makhluk-Nya, maka ini adalah jenis tauhid Asma’ was Shifat yang diingkari oleh Al-Jahmiyyah, Al-Mu’tazilah, dan Al-Musyabbahah dan siapapun yang berjalan diatas jalan mereka.
(Majmu’ul Fatawa Ibni Baaz : 6/215).

Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullahu;
“Terkandung didalam surat Al-Fatihah ini pembagian Tauhid menjadi tiga bagian,
Maka firman Allah Ta’ala;
[بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ]
Pada ayat tersebut terdapat jenis tauhid Uluhiyyah dan tauhid Asma’ was Shifat.

[ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ]
Pada ayat tersebut terdapat jenis tauhid Uluhiyyah, tauhid Rububiyyah, dan tauhid Asma’ was Shifat.

[ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ]
Pada dua ayat tersebut terdapat jenis tauhid Asma’ was Shifat dan tauhid Rububiyyah.

[إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ]
Pada ayat tersebut terdapat jenis tauhid Uluhiyyah.

[ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ]
Pada dua ayat tersebut terdapat jenis tauhid Uluhiyyah.
(Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyyah hal : 89, Al-Jaami’ Al-Fariid hal : 276).

a. Tauhid Rububiyyah
Maknanya adalah mengesakan Allah Ta’ala pada perbuatan-perbuatan-Nya, yaitu mengesakan Allah Ta’ala pada kekuasaan, penciptaan, dan pengaturan alam semesta. (Majmu’ul Fatawa : 10/33).

Diantara dalil bahwasanya Allah Ta’ala maha pencipta, maha pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta adalah firman Allah Ta’ala;

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَمَن يُخْرِجُ ٱلْحَىَّ مِنَ ٱلْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ ٱلْمَيِّتَ مِنَ ٱلْحَىِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka pasti akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus 10:31).

Dan dalil bahwasanya Allah Ta’ala maha penguasa adalah firman Allah Ta’ala;

وَلِلَّهِ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
“kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu”. (Ali Imran 3:189).

b. Tauhid Uluhiyyah atau tauhid ibadah
Maknanya adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah, yang demikian itu maksudnya adalah dengan mengikhlaskan segala peribadatan hanya untuk Allah Ta’ala semata, dan tidak memalingkan satu saja ibadah dari ibadah-ibadah yang ada kepada selain Allah Ta’ala, karena sesungguhnya hanya Allah Ta’ala semata lah yang berhak diibadahi dan tidak ada sekutu bagi-Nya.
(Taisir Azizil Hamid hal : 36).

Dan dalil-dalil yang menunjukkan akan wajibnya mengesakan Allah Ta’ala didalam ibadah sangatlah banyak, diantaranya firman Allah Ta’ala;

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”
(Al Israa’ 17:23).

Allah Ta’ala juga berfirman;

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian

itulah agama yang lurus”.
(Al Bayyinah 98:5).
Berkata Al-Imam Al-Qurtubi rahimahullahu mengomentari ayat tersebut;

[إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ ] أَيْ لِيُوَحِّدُهُ
“Makna firman Allah Ta’ala dari ayat
“kecuali supaya menyembah Allah” adalah kecuali supaya mentauhidkan Allah”.
(Tafsir Al-Qurtubi : 20/144).

c. Tauhid Asma’ was shifat
Maknanya adalah mengesakan Allah Ta’ala pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya, yang mana hal tersebut harus terkandung padanya dua perkara;
(Dirosat fii Ilmil Aqidah : 1/102).

1. Menetapkan seluruh apa yang telah datang dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya pada nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala, dengan penetapan yang

berorientasi pada sifat kemuliaan dan pengkhususan keagungan Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman;

وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna (nama-nama yang baik, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna tersebut”.
(Al A’raaf 7:180) .

Dan Allah Ta’ala juga berfirman;

وَلِلَّهِ ٱلْمَثَلُ ٱلْأَعْلَىٰ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ
“dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
(An Nahl 16:60) .

2. Meniadakan perbuatan yang menyamakan Allah Ta’ala dengan mahluk-Nya. Maksudnya adalah meniadakan sesuatu yang serupa dengan Allah Ta’ala pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Dan juga meniadakan adanya perbuatan takyif (memvisualisasikan sifat Allah), meniadakan tamtsil (menyamakan sifat Allah dengan makhluk), meniadakan tahrif (pemalingan makna dari sifat Allah), dan meniadakan ta’thil (menolak sifat Allah).
(Al-Qoulul mufid fii adillatit tauhid Lil Wushobi : 126).

Allah Ta’ala berfirman;

هَلْ تَعْلَمُ لَهُۥ سَمِيًّا
“Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (Allah)”?
(Maryam 19:65).

Allah Ta’ala juga berfirman;

وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ

“dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (Allah)”.
(Al Ikhlash 112:4).

Allah Ta’ala juga berfirman;

لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat”.
(Asy Syuura 42:11).

Dan terkumpul dalam satu ayat dalil yang menetapkan bahwa tauhid ada tiga jenis, adalah firman Allah Ta’ala;

رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَٱعْبُدْهُ وَٱصْطَبِرْ لِعِبَٰدَتِهِۦ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُۥ سَمِيًّا
“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)”?. (Maryam 19:65).

6. Dalil pembagian Tauhid
Berkata As-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullahu ketika ditanya tentang dalil dari pembagian tauhid;

هَذَا مَأْخُوْذٌ مِنْ الإِسْتِقْرَاءِ, لأَنَّ العُلَمَاءَ لَمّا اسْتَقْرَؤُو مَاجَائَتْ بِهِ النَّصُوْصُ مِنْ كِتَابِ اللهِ وَسُنَّتِيْ رَسُوْلِهِ ظَهَرَ لَهُمْ هَذَا
“Pembagian ini diambil dari penelitian mendalam, karena sesungguhnya para ulama ketika mereka meneliti secara mendalam apa yang telah datang dari nash-nash Al-Quran dan juga sunnah
rasul-Nya kemudian mereka mendapatkan kesimpulan pembagian tauhid ini”.
(Majmu’ul Fatawa Ibni Baaz : 6/216).

Berkata juga As-Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullahu;
“Pembagian tauhid menjadi tiga bagian adalah pembagian yang dihasilkan dari penelitian mendalam oleh ulama salaf, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnu Mandah dan Ibnu Jarir Ath-Thobari rahimahumallahu, dan yang selain mereka berdua. (Tafsir Ath-Thobari : 5/170).

Pembagian ini juga yang telah ditetapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim, Az-Zubaidi didalam kitabnya Taajul ‘Aruus, dan As-Syinqithi didalam kitabnya Adhwaul bayan, dan yang selain dari mereka rahimahumullahu jami’an. Kemudian penelitian ini adalah penelitian yang bersifat mendalam terhadap nash-nash syar’i, dan penelitian yang berlaku bagi seluruh ulama disetiap cabang ilmu, sebagaimana penelitiannya ulama-ulama nahwu (bahasa arab) terhadap ucapan orang-orang arab yang terdiri dari tiga jenis; isim (kata benda), fi’il (kata kerja), dan huruf. Lalu orang-orang arab tidak menentang pembagian ini, bahwa ucapan mereka terbagi menjadi tiga bagian. Dan tidak ada juga yang mencela ulama-ulama nahwu atas pembagian ini dari kalangan orang-orang yang mencela. Maka seperti itu juga keadaannya pada pembagian tauhid menjadi 3 jenis.
(At-Tahzir min Mukhtashorot Ash-Shobuni hal : 331).

7. Korelasi diantara ketiga jenis tauhid

a. Tauhid Uluhiyyah terkandung didalamnya makna tauhid Rububiyyah.
Hal ini dikarenakan siapa saja yang mengibadahi Allah Ta’ala semata (tauhid Uluhiyyah) maka seseorang tersebut harus meyakini sebelumnya bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb nya, sang maha penguasa, maha pencipta, pengatur alam semesta, Dzat yang paling berhak untuk diibadahi (tauhid Rububiyyah).
(Dirosat fii Ilmil Aqidah hal : 1/103).

Karena bagaimana mungkin seseorang mengaku beribadah murni hanya kepada Allah Ta’ala dalam keadaan dia mengingkari dan menolak bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb nya, penciptanya, pemberi rezekinya, dan pengatur seluruh alam semesta.

b. Tauhid Rububiyyah berkonsekwensi terhadap tauhid Uluhiyyah.
Hal ini dikarenakan ketika seseorang meyakini bahwa Allah Ta’ala semata sang pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta (tauhid Rububiyyah). Maka konsekuensi dari keyakinan tersebut adalah mengikhlaskan segala macam bentul peribadatan hanya untuk Allah Ta’ala semata (tauhid Uluhiyyah).
Oleh sebab itu Allah Ta’ala tidak memasukkan orang-orang musyrikin kedalam islam. Dikarenakan orang-orang musyrikin mereka meyakini bahwa Allah adalah sang pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta (tauhid Rububiyyah). Akan tetapi pengakuan mereka tersebut tidak mereka realisasikan dengan konsekwensi mengikhlaskan segala macam peribadatan mereka hanya untuk Allah semata (tauhid Uluhiyyah).

Allah Ta’ala berfirman;

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَمَن يُخْرِجُ ٱلْحَىَّ مِنَ ٱلْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ ٱلْمَيِّتَ مِنَ ٱلْحَىِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka pasti akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa (mentauhidkan Uluhiyyah) kepada-Nya)?”
(Yunus 10:31).

Allah Ta’ala juga berfirman menceritakan hakikat peribadatan orang-orang musyrikin yang beribadah kepada selain Allah Ta’ala bersamaan dengan Allah ;

ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَٰنَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan selain Allah”
(At Taubah 9:31) .

Allah Ta’ala juga berfirman;
أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلْخَالِصُ ۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang- orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”.
(Az Zumar 39:3).

c. Tauhid Asma’ was Shifat mengandung makna tauhid Rububiyyah
Hal ini dikarenakan Ar-Rabb (tuhan) diantara nama-nama Allah Ta’ala (tauhid Asma’ was Shifat), tidak ada seorangpun yang boleh menamai dirinya dengan nama ini secara mutlak, bahkan sampai dikatakan bahwa Ar-Rabb (tuhan) adalah nama Allah Ta’ala yang paling mulia.
(Fathul baari : 1/225).

Lalu terkandung juga didalam nama Ar-Rabb tersebut makna tauhid Rububiyyah.
Bahwasanya Allah Ta’ala adalah satu-satunya Rabb sang pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta (tauhid

Asma’ was Shifat).
(Dirosat fii Ilmil Aqidah : 1/103).

d. Tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah keduanya berkonsekwensi pada tauhid Asma was Shifat
Hal ini dikarenakan siapa saja yang beriman bahwa hanya Allah Ta’ala semata sang pencipta, sang penguasa, dan sang pengatur alam semesta (tauhid Rububiyyah). Maka keimanan tersebut mengharuskannya untuk hanya beribadah kepada Allah Ta’ala semata (tauhid Uluhiyyah). Lalu siapa saja yang beribadah hanya kepada Allah Ta’ala semata (tauhid Uluhiyyah), maka itu mengharuskannya untuk meyakini bahwa Rabb yang diibadahinya tersebut memiliki sifat-sifat yang mulia, dan memiliki nama-nama yang indah.
(Syarah Ath-Thohawiyyah : 1/14).

e. Tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah terkadang disebutkan secara bersamaan, maka masing-masing dari jenis tauhid tersebut memiliki maknanya sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lain

Hal ditunjukkan dengan firman Allah Ta’ala;

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ, مَلِكِ ٱلنَّاسِ, إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia”.
“Penguasa manusia”.
“Sembahan manusia”.
(An Naas 114:1-3) .

Maka makna dari Rabb (tauhid Rububiyyah) di ayat pertama adalah maha penguasa dan pengatur para makhluk. sedangkan makna Ilah (tauhid Uluhiyyah) pada ayat ketiga adalah Allah Ta’ala satu-satunya yang berhak untuk diibadahi.

(Dirosat fii Ilmil Aqidah : 1/104).

f. Terkadang tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah disebutkan secara terpisah, maka pada keadaan seperti ini kedua tauhid tersebut memiliki makna yang sama

Sebagaimana ini ditunjukkan oleh perkataan dua malaikat yang bertanya kepada mayyit didalam kubur;
مَنْ رَبُّكَ؟
“Siapakah Rabbmu?”.
Maka makna kata Rabb disini bukan hanya bermakna tuhan (tauhid Rububiyyah) akan tetapi maknanya juga sesembahan (tauhid Uluhiyyah).
Sehingga pertanyaan dua malaikat tersebut “siapakah Rabbmu?”, maknanya adalah
“siapakah penciptamu dan sesembahanmu?”.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala juga;

ٱلَّذِينَ أُخْرِجُوا۟ مِن دِيَٰرِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّآ أَن يَقُولُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ۗ
(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari
kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Rabb kami hanyalah Allah”.
(Al Hajj 22:40).
Sehingga makna dari ayat tersebut adalah
“Pencipta dan sesembahan kami hanyalah Allah”.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala juga;

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka.
(Fushshilat 41:30).
Maka makna ayat tersebut adalah “Pencipta kami dan sesembahan kami ialah Allah”.

Artinya tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah dalam konteks ini memiliki satu makna yang sama.
(Ibid).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu;
“Al-Ilahiyyah (tauhid Uluhiyyah) mengandung makna tauhid Rububiyyah, dan tauhid Rububiyyah memberikan konsekwensi terhadap tauhid Uluhiyyah. Maka sesungguhnya salah satu dari dua jenis tauhid ini dia akan mengandung makna dari jenis tauhid yang lainnya apabila disebutkan secara terpisah, dan akan memiliki makna tersendiri pada masing-masing jenis ketika disebutkan secara bersamaan”.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala;

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ, مَلِكِ ٱلنَّاسِ, إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia”.
“Penguasa manusia”.
“Sembahan manusia”.
(An Naas 114:1-3).

Dan firman Allah Ta’ala;

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.
(Al Fatihah 1:2).

Maka disini Allah Ta’ala menggabungkan dua nama-Nya, yaitu nama Ilah (إِلٓهٌ) dan Rabb (رَبٌّ).
Dan sesungguhnya nama Ilah (إِلٓهٌ) bermakna sesembahan, artinya sesuatu yang disembah yaitu Allah Ta’ala.
Sedangkan nama (رَبٌّ) bermakna yang membimbing dan mengatur hamba-hamba-Nya”.
(Majmu’ul Fatawa : 10/283-284).

 

Demikian pembahasan tauhid dibagian pertama ini, semoga bermanfaat untuk seluruh kaum muslimin secara umum.

Allahu Ta’ala A’la wa A’lam

Wabillahi at taufiq was sadaad

##umarabuabdillah