
بسم الله الرحمن الرحيم
MUALLIM DAN MUALLIMAH, SOSOK UJUNG TOMBAK DALAM DUNIA PENDIDIKAN DAN DAKWAH
الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه مباركا عليه كما يحب ربنا ويرضى, وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له, له الحمد في الدنيا والآخرة، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المصطفى والنبيه المجتبى صلى الله عليه وعلى آله وصحبه أئمة الهدى ومصابح الدجى، وسلم تسليما كثيرا.
Sesungguhnya diberi amanah oleh Allah Ta’ala berprofesi sebagai tenaga pendidik, Muallim dan Muallimah, merupakan anugerah yang sangat besar. Bahkan merupakan diantara sebaik-baiknya profesi dalam kacamata islam. Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan Muallim dan Muallimah adalah ujung tombak dunia pendidikan dan dakwah.
1. MUALLIM DAN MUALLIMAH, KEMULIAAN DAN KEUTAMAAN
Sungguh telah banyak nash-nash yang menjelaskan keutamaan menjadi Muallim dan Muallimah, kemuliaan kedudukan mereka, dan ketinggian derajat mereka.
Cukuplah sebagai bentuk kemuliaan dan keutamaan dari amanah dan profesi ini, bahwa penutup para Nabi dan sebaik-baiknya Rasul, Muhammad shallallahu alaihi wassalam adalah orang pertama yang mengemban amanah dan berprofesi dengan profesi mulia ini, beliau menjadi pendidik dan mengajarkan manusia mulai dari hal paling kecil di agama ini sampai hal yang paling besar. (Al-Jaami’ fii Kutubi Adabil Muallimin hal 11).
Allah Ta’ala berfirman;
لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ
وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Quran dan As-Sunnah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Ali Imran 3:164).
Allah Ta’ala juga berfirman;
هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
Dialah Allah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Al-Quran dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya keadaan mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Al Jumu’ah 62:2).
Lebih jauh ternyata menjadi Muallim dan Muallimah merupakan salah satu alasan Allah Ta’ala mengutus Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wassalam ditengah-tengah kaum ini.
Dari Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha Rasulullah sallahualaihissalam bersabda;
إِنَّ اللهَ لَمْ يَبْعَثْنِيْ مُعَنِّتًا، وَلاَ مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنٍيْ مُعَلِّمًا وَمُيَسَّرًا
Sesungguhnya Allah tidaklah mengutusku sebagai seorang yang menyusahkan, tidak juga sebagai seorang yang membuat susah, melainkan Allah mengutuskus sebagai mualliman (pendidik) dan seorang yang memberi kemudahan.
(HR. Muslim no. 3683).
Maka berbahagialah Muallim dan Maullimah dengan keutamaan dan kemuliaan ini.
2. RASULULLAH shallahu alaihi wassalam ADALAH SEBAIK-BAIKNYA MUALLIM.
Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wassalam adalah sebaik-baik Nabi dan Rasul. Beliau diutus kepada seluruh manusia, sedangkan Nabi dan Rasul lainnya hanya diutus secara khusus untuk kaumnya tertentu saja. Nabi kita juga merupakan junjungan seluruh anak adam kelak di hari kiamat.
Allah Ta’ala berfirman;
وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Dan Kami tidak mengutus kamu Muhammad, melainkan kepada manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Saba’ 34:28).
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu Rasulullah shallahu alaihi wassalam juga bersabda;
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمٍ يَوْمَ القِيَامَةِ
Aku adalah junjungan seluruh anak Adam pada hari kiamat kelak. (HR. Muslim dan Tirmidzi).
Lebih khusus ternyata beliau sallahu alaihi wassalam merupakan sebaik-baiknya Muallim.
Berkata Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiallahu ‘anhu;
مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلاَ بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيْمًا مِنْهُ، فَوَ اللهِ
مَا كَهَرَنِيْ، وَلاَ ضَرَبَنِيْ، وَلاَ شَتَمَنِيْ
Aku tidak pernah melihat seorangpun Muallim sebelum beliau, tidak juga setelah beliau, yang lebih bagus pengajarannya daripada beliau sallahu alaihi wassalam, maka demi Allah beliau tidak pernah membentakku, beliau juga tidak pernah memukulku, tidak juga mencelaku.
(HR. Muslim).
Jika demikian maka sudah sepantasnya seorang Muallim dan Muallimah menjadikan Rasulullah sallahu alaihi wassalam sebagai teladan dan role model didalam mendidik, sehingga keberhasilan dan keberkahan dari pendidikan akhirnya terwujud.
3. MUALLIM DARI KALANGAN SALAF
Ulama salaf adalah generasi terbaik dari umat ini. Terbaik agamanya, ibadahnya, keilmuannya, dan tentu terbaik dalam profesinya sebagai Muallim ataupun Muallimah.
a. Ubadah bin As-Shoomit radhiallahu ‘anhu berkata;
عَلَّمْتُ نَاسًا مِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ الكِتَابَةَ وَالقُرْآنَ
Aku mengajarkan manusia dari orang-orang yang tinggal di masjid nabi menulis dan juga Al-Quran
(Riwayat Ahmad : 5/315)
Dan amirul mu’minin ‘Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu mengutus beliau untuk menjadi Muallim, mengajarkan Al-Quran kepada penduduk negeri Syam.
(Ibnu Na’im : Ma’rifatus Shohabah 4/1919).
b. Abu Musa Abdullah bin Qois bin Sulaiman Al-As’ari radhiallahu ‘anhu adalah diantara sahabat yang diutus oleh Rasulullah sallahu alaihi wassalam ke negeri Yaman untuk mengajarkan mereka Al-Quran.
(Thobaqhot Al-Fuqoha hal 25).
c. Mu’adz bin Jabal dan ‘Attaab bin Asid radhiallahu ‘anhuma setelah peristiwa fathu Mekkah mereka berdua dijadikan oleh Rasulullah sallahu alaihi wassalam sebagai pengajar yang mengajarkan manusia agama mereka dan juga mengajarkan Al-Quran.
Kemudian Rasulullah sallahu alaihi wassalam mengutus Mu’adz bin Jabal ke negeri Yaman untuk mengajarkan mereka Al-Quran, syariat-syariat islam, dan menjadi mufti untuk mereka.
(Ibnu ‘Abdil Bar : Al-Isti’ab 3/143)
d. ‘Amr bin Hazm Al-Khozroji An-Najjari radhiallahu ‘anhu diutus oleh Rasulullah sallahu alaihi wassalam ke negeri Najran untuk mengajarkan penduduk Najran agama islam dan juga mengajarkan mereka Al-Quran.
(Ibnu ‘Abdil Bar : Al-Isti’ab 3/1173).
e. Abdullah bin Sa’id bin Al-‘Ash Al-Umawi radhiallahu ‘anhu diperintahkan oleh Rasulullah sallahu alaihi wassalam untuk mengajarkan manusia baca tulis di kota Madinah, dan dahulu beliau adalah seorang penulis yang berbakat.
(Ibnu ‘Abdil Bar : Al-Isti’ab 3/921).
f. Berkata Al-Imam Yahya bin Ma’in rahimahullahu ;
عَبْدُ اللهِ بِنْ الحَارِثِ كَنَا مُعَلِّماً، وَقَبِيْصَةُ بِنْ ذُؤَيْبٍ كَانَ مُعَلِّماً، وَعَمْرُو بِنْ الحَارِسِ كَانَ مُعَلِّمَ وَلَدِ صَالِحِ بِنْ عَلِيْ يَعْنِيْ الهَاشِمِيْ
Abdullah bin Harits radhiallahu ‘anhu dahulu adalah seorang Muallim, dan Qobishoh bin Dzuaib (Tabi’in) juga dahulu adalah seorang Muallim, dan ‘Amr bin Al-Harits (Tabi’in) dahulu juga adalah Muallim anaknya Sholih bin ‘Ali yaitu Al-Hasyimi.
(Tahzibul Kamal : 23/480).
g. Berkata Al-Imam Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullahu;
كَانَ الضَّحَاكُ بِنْ مُزَاحِمٍ وَعَبْدُ اللهِ بٍنْ الحَارِثِ يُعَلِّمَانِ الصِّبْيَانَ فَلَا يَأْخُذَانِ أَجْراً
Dahulu Adh-Dhohhak bin Muzahim (tabi’in) dan Abdullah bin Al-Harits mereka berdua adalah Muallim, mereka mengajarkan anak-anak tanpa mau mengambil upah.
(Tarikh Dimasqin : 49/258).
h. Berkata ‘Abdurrahman bin Yusuf rahimahullahu;
َقَبِيْصَةُ بِنْ ذُؤَيْبٍ كَانَ مُعَلِّماً وَ الزُّهْرِيْ كَانَ مُعَلِّماً
Qobishoh bin Dzuaib (Tabi’in) dahulu adalah seorang Muallim dan Adz-Dzuhri juga dahulu adalah seorang Muallim.
(Tarikh Dimasqi : 49/258).
Ini semua menunjukkan bahwa Muallim dan Muallimah adalah ujung tombak dakwah, lihatlah bagaimana Rasulullah sallahu alaihi wassalam mengutus para Muallim dari kalangan sahabat menuju negeri-negeri yang jauh untuk menyebarkan agama islam. Begitu juga dengan generasi setelahnya dari kalangan tabi’in, mereka seakan tidak mau kalah dalam mengambil bagian ini, mereka juga berprofesi sebagai Muallim, mengajarkan dan mendidik manusia.
4. MUALLIM DAN MUALLIMAH ORANG YANG PALING BAHAGIA DAN BERUNTUNG
Seluruh mahluk dimuka bumi ini mendambakan kebahagian dan keberuntungan. Tidak ada seorangpun kecuali pasti ingin hidup bahagia dan beruntung. Oleh sebab itu sedikit ataupun banyak mereka berusaha dan saling berlomba-lomba untuk mendapatkan sebuah kebahagian. Kemudian manusia ternyata berbeda-beda didalam mendefinisikan kebahagian. Mayoritas dari mereka kebahagian adalah dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya walaupun harus sampai menabrak rambu-rambu syariat. Sebagian yang lain kebahagian adalah dengan melakukan segala macam keinginan yang diinginkan, bebas tanpa batasan, halal ataupun haram. Padahal faktanya kedua kelompok ini tidaklah meraih kebahagiaan dan keberuntungan, melainkan yang didapat hanya kesengsaraan dan kerugian.
Sesungguhnya hati yang tentram, hati yang tenang, hati yang bersuka cita, hati yang jauh dari kesedihan, dan hati yang jauh dari kegelisahan, adalah esensi nyata dari sebuah kebahagiaan dan keberuntungan. Dan yang demikian itu adalah keadaan para Muallim dan Muallimah.
(As-Syaikh Kholid Marjah Al-A’deni : Muqoddimah Syarah Al-Wasailal Mufiidah Lilhayatis Sa’idah).
Bagaimana mereka tidak berbahagia dan beruntung sedangkan pahala dan kebaikan terus-terusan mengalir kepada mereka?
Mereka adalah penyeru dan penunjuk kebaikan kepada murid-murid mereka.
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu Rasulullah sallahu alaihi wassalam bersabda;
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Siapa saja yang menunjukkan kepada satu kebaikan, maka untuknya pahala yang semisal dengan yang melakukan kebaikan tersebut.
(HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu Rasulullah sallahu alaihi wassalam juga bersabda;
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًا كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا
Siapa saja yang menyeru kepada satu kebaikan maka baginya pahala seperti pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. (HR. Muslim)
Dari ‘Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu Rasulullah sallahu alaihi wassalam juga bersabda;
لَأَنْ يَهْدٍيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَحِداً خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرٍ النَّعَمِ
Apabila Allah memberikan hidayah kepada seseorang melalui perantara mu maka untukmu apa yang lebih baik dari unta merah.
(HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu Rasulullah sallahu alaihi wassalam juga bersabda;
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلٌهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَاثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Apabila manusia telah meninggal akan terputus darinya seluruh amalanya kecuali tiga perkara; kecuali shodaqoh yang terus mengalir, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang berdoa kebaikan untuknya.
(HR. Muslim).
Kemudian faktanya terkumpul pada Muallim dan Muallimah 3 hal tersebut.
a. Apa yang telah mereka perintahkan dari kebaikan-kebaikan, dan apa yang telah mereka larang dari kejelekan-kejelekan kepada murid-murid mereka, terhitung sebagai shodaqoh.
Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiallahu ‘anhu Rasulullah sallahu alaihissalam wassalam bersabda;
وَأَمْرُكَ بِالمَعْرُوْفِ وَنَهْيُكَ عَنِ المُنْكَرِ
صَدَقَةٌ
Apa yang telah engkau serukan dari kebaikan dan apa yang telah engkau larang dari kejelekan adalah sebuah shodaqoh.
(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
b. Apa yang telah mereka ajarkan dari ilmu-ilmu dunia dan akhirat kepada murid-murid mereka, adalah bentuk konkret dari ilmu yang bermanfaat.
Berkata As-Syaikh Bin Baz rahimahullahu;
وَأَمَّا العِلْمُ النَّافِعُ مَعْنَاهُ تَعْلِيْمُ الطَّلَبَةِ، تَعْلِيْمُ النَّاسِ العِلْمُ
Dan adapun ilmu yang bermanfaat maknanya adalah mengajarkan (kebaikan) kepada para murid, dan mengajarkan ilmu kepada manusia.
(Binbaz.org.sa).
Berkata juga As-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu;
الظَّاهِرُ أَنًّ الحَدِيْثَ عَامٌ، كُلُّ عِلْمٍ يَنْتَفِعُ بِهِ فَإنَّهُ يَحْصُلُ لَهُ الأَجْرُ لَكِنْ عَلَى رَأْسِهَا وَقِمَّتُهَا العِلْمُ الشَّرْعِيْ
Yang tampak adalah bahwa hadits tersebut bermakna umum (baik ilmu syar’i ataupun ilmu dunia), segala macam ilmu yang bermanfaat akan menghasilkan pahala untuk yang mengajarkannya, akan tetapi pahala yang paling tinggi dan puncak adalah mengajarkan ilmu syar’i.
(Liqo’ Babil Maftuh : 16/117).
c. Muallim dan Muallimah secara tidak langsung menduduki kedudukan orang tua para murid, mereka adalah orang tua asuh yang menggantikan peran orang tua kandung didalam instansi-instansi pendidikan untuk setiap murid. Sehingga murid yang sholeh dia pasti tidak akan pernah lupa akan jasa Muallim dan Muallimahnya, dia pasti akan berusaha untuk membalas jasa Muallim dan Muallimahnya tersebut, atau paling tidak dia akan mendoakan kebaikan untuk mereka. Dan perkara yang demikian diperintahkan didalam islam.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah sallahu alaihi wassalam bersabda;
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ
Siapa saja yang tidak bisa bersyukur terhadap perbuatan baik manusia maka dia juga tidak akan bisa bersyukur kepada Allah.
(HR. Tirmidzi dan Ahmad).
Dari Abdullah bin ‘Umar Rasulullah sallahu alaihissalam wassalam juga bersabda;
مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوْفًا فَكَافِئُهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُ مَا تُكَافِئُهُ فَادْعُوْهُ حَتَّى تَرَوْ أَنَّكُمْ قَدْ كَفَأْتُمُوْهُ
Siapa saja yang telah berbuat satu kebaikan kepadamu maka balaslah satu perbuatan baik tersebut dengan semisalnya, apabila engkau tidak mampu untuk membalasnya maka paling tidak doakan kebaikan untuknya, sampai engkau telah melihat bahwasanya engkau telah membalas jasa kebaikan kepada orang tersebut.
(HR. Abu Daud dan An-Nasai).
Bagaimana mereka tidak bahagia dan beruntung sementara perbuatan mereka adalah sebaik-baiknya perbuatan dan perkataan?
Allah Ta’ala berfirman;
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang tunduk”.
(Fushshilat 41:33).
Allah Ta’ala juga berfirman;
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ
Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
(Ali Imran 3:110).
Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu Rasulullah sallahu alaihi wassalam juga bersabda;
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Sebaik-baiknya orang diantara kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan juga yang mengajarkannya
(HR. Bukhari, Abu Daud, At-Tirmidzi).
Bagaimana mereka tidak bahagia dan beruntung sementara mereka adalah orang-orang yang selamat dari laknat?
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu Rasulullah sallahu alaihi wassalam bersabda;
الدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ وَمَلْعُوْنَةٌ مَافِيْهَا إِلاَّ ذِكْرَ اللهِ وَالعَالِمَ وَالمُتَعَلِّمَ
Dunia ini terlaknat dan terlaknat apa yang ada didalamnya, kecuali dzikir mengingat Allah, orang yang berilmu agama, dan orang yang belajar agama.
(HR. Muslim).
5. KUNCI DARI SEMUA KEUTAMAAN DAN KEMULIAAN BAGI MUALLIM DAN MUALLIMAH
Sudah seharusnya bagi setiap orang yang menyeru kepada jalan Allah Ta’ala untuk terpenuhi padanya dua syarat dan kunci utama. Dua syarat tersebut adalah ikhlas hanya mengharapkan wajah Allah Ta’ala, dan ittiba’ mengikuti praktek nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wassalam. Dan perlu diperhatikan hendaknya juga seseorang tersebut mengilmui dengan kuat apa yang ia seru dan dakwahkan. Karena apabila terluput dari syarat pertama maka amalan tersebut menjadi kesyirikan. Dan apabila terluput dari syarat kedua maka amalan tersebut menjadi bid’ah dan tertolak.
(As-Syaikh Abdurrahman bin Qosim : Hasyiah Kitabit Tauhid hal 55).
Pun begitu halnya dengan Muallim dan Muallimah. Maka ketahuilah seluruh keutamaan, kedudukan, dan kemuliaan Muallim dan Muallimah didalam islam, itu semua hanya akan didapat apabila didasari dengan dua pondasi tersebut.
Allah Ta’ala berfirman;
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidaklah diperintah kecuali agar menyembah Allah semata dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
(Al Bayyinah 98:5).
Allah juga berfirman;
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.
(An Nisa 4:48).
Allah juga berfirman;
وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan terhapuslah seluruh amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.
(Az Zumar 39:65).
Dari Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu Rasulullah shallahu alaihi wassalam bersabda;
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ،وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَانَوَى
Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya seseorang hanya akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan niatnya.
(HR.Bukhori dan Muslim)
Maka siapapun yang niat mengajarnya mengharapkan wajah Allah dan kehidupan akhirat, maka dia akan diangkat derajatnya oleh Allah Ta’ala baik di dunia ataupun di akhirat.
Dan sebaliknya siapapun yang niat mengajarnya hanya sebatas mengejar dunia yang fana, mengharapkan gemerlap dan perhiasan dunia, maka Allah akan menolak amalan tersebut dan terancam dengan neraka. Iyaadzan billah.
Kemudian bisa saja Allah memberikan dunia tersebut sebagaimana yang ia harapkan, atau bisa saja Allah tidak memberikannya sama sekali.
Allah Ta’ala berfirman;
مَّن كَانَ يُرِيدُ ٱلْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُۥ جَهَنَّمَ يَصْلَٓهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا
Siapa saja yang mengharapkan kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya (yang diharapkan) di dunia itu, pada apa yang kami kehendaki, bagi orang yang kami kehendaki dan kemudian Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.
(Al Israa’ 17:18).
Allah Ta’ala juga berfirman;
مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ
أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا۟ فِيهَا وَبَٰطِلٌ مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
Itulah orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.
(Huud 11:15 -16).
Rasulullah sallahu alaihi wassalam juga menceritakan tentang 3 orang yang pertama akan masuk ke dalam neraka, diantaranya adalah seorang pengajar yang niat mengajarnya hanya karena dunia. ‘Iyaadzan billah.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu Rasulullah sallahu alaihi wassalam bersabda;
وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ العِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ القُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَّفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ العِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ القُرْآنَ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ العِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ القُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِءٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَحُسِبَ عَلَى وَجْحهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِيْ النَّارِ
Dan seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta membaca Al Qur’an, kemudian orang tersebut didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatannya, maka iapun mengetahuinya. Allah berfirman kepadanya: apakah yang telah engkau perbuat dari nikmat tersebut? Orang tersebut menjawab: saya mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta karena-Mu saya membaca Al Qur’an. Allah berfirman: engkau berdusta, akan tetapi engkau mempelajari ilmu agar dikatakan: ia orang yang alim, dan engkau membaca Al Qur’an agar dikatakan: ia orang yang pandai membaca Al-Quran, sehingga dikatakanlah yang demikian itu. Kemudian orang tersebut diperintahkan untuk dibawa pergi lalu diseret wajahnya hingga dicampakkan ke Neraka.
(HR. Muslim).
Allah Ta’ala juga berfirman, mengabarkan bahwa agama ini telah sempurna, semuanya telah dijelaskan, termasuk juga metode dan wasilah didalam mengajar dan berdakwah;
ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ
لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.
(Al Ma’idah 5:3).
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu Rasulullah sallahu alaihi wassalam juga bersabda;
إِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى الجَنَّةِ إِلاَّ قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ، وَلَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى النَّارِ إِلاَّ قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ
Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang akan mendekatkan kalian ke surga kecuali telah aku perintahkan kaloan untuk melakukannya, dan tidak ada juga sesuatu apapun yang akan menjauhkan kalian dari neraka kecuali telah aku larang kalian untuk mengerjakannya.
(HR. Ibnu Abi Syaiybah, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi).
Allah juga berfirman, memerintahkan untuk mengikuti (ittiba’) kepada Rasulullah sallahu alaihi wassalam, termasuk didalam berdakwah dan mengajar.
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah.
(Al Ahzab 33:21).
Allah juga berfirman;
وَمَاۤ اٰتٰٮكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰٮكُمْ عَنْهُ فَا نْتَهُوْا ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَا بِ
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.
( Al-Hasyr 59:7).
Allah juga berfirman;
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
(An Nisa 4:59).
Berkata ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu;
اتَّبِعُوْا وَلَا تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ
Ittiba’lah kalian semua kepadaku janganlah kalian berbuat bi’ah sesungguhnya apa yang ada dari agama ini telah cukup atas kalian.
(Ibnu Battoh : Al-Ibanah Al-Kubro 174)
Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha Rasulullah sallahu alaihi wassalam bersabda;
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Siapa saja yang mendatangkan satu amalan baru dari agama ini yang tidak ada asalnya sama sekali maka amalan tersebut tertolak.
(HR. Bukhari).
Dalam riwayat lain Rasulullah sallahu alaihi wassalam bersabda;
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Siapa saja yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada pendahulunya sama sekali dalam agama ini maka amalan tersebut tertolak.
(HR. Muslim).
Allah Ta’ala juga berfirman menjelaskan bahwa dakwah, seruan, dan pendidikan yang haq adalah dakwah, seruan, dan pendidikan yang dibangun diatas pondasi bashiroh.
قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
Katakanlah wahai Muhammad: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku aku menyeru kepada Allah diatas bashiroh, Maha Suci Allah, dan aku tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik”.
(Yusuf 12:108).
Berkata Al-Imam Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menjelaskan makna Bashiroh.
أَيْ عَلَى عِلْمٍ وَيَقِيْنٍ مِنْ غَيْرِ شَكٍّ وَلاَ امْتِرَاءٍ وَلاَ مِرْيَةٍ
Maksud dari kata Bashiroh di ayat tersebut adalah diatas ilmu dan keyakinan, tanpa ada keraguan, tidak juga kewaswasan, dan tidak juga kesangsian.
(Tafsir As-Sa’di).
Akan tetapi yang harus kita ketahui bersama juga adalah, bukan merupakan syarat untuk seseorang bisa menyeru, berdakwah, dan menjadi Muallim ataupun Muallimah dijalan Allah Ta’ala, bahwa dia harus mengetahui dan mengilmui seluruh hukum-hukum di dalam syariat ini. Akan tetapi yang wajib atasnya adalah dia mengetahui dan mengilmui secara pasti apa yang ia seru dan ajarkan dari Al-Quran dan juga As-Sunnah dengan pemahaman Salaful ummah.
(‘Abdus Salam bin Barjas Alu Abdil Karim : Ushulul Dakwah As-Salafiyyah hal 37).
Sebagaimana dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah sallahu alaihi wassalam bersabda;
بَلِّغُوْا عَنٍّيْ وَلَوْ آيَةً
Sampaikanlah dari ku walaupun itu hanya satu ayat.
(HR. Bukhori).
Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar dianugerahkan kepada kita semua, bisa menjadi Muallim dan Muallimah yang berperan banyak dalam dakwah dan juga pendidikan.
Demikianlah pembahasan ini semoga bermanfaat.
Allahu Ta’ala A’la wa A’lam.
Umar Abu Abdillah.
